26/06/2008

Duplikasi, ditambah Modifikasi adalah Inovasi

“Penyair teri meminjam, penyair kakap mencuri” T.S. Eliot


Tulisan dibawah ini merupakan pledoi bagi individu, bangsa, dan masyarakat yang sedang berkembang:

Penerjemahan
Gerrard, yang telah dilahirkan di Cremona, Lombardi pada tahun 1114, adalah seorang ilmuan abad pertengahan telah menterjemahkan berbagai karya penulis terkemuka Yunani dan Arab ke dalam bahasa Latin. Dia melakukan perjalanan ke Teledo, di Spanyol untuk mempelajari bahasa Arab sehingga ia dapat membaca almagest karya Ptolemy, seorang ahli astronomi, geografi, dan matematika Yunani yang hidup di abad kedua Masehi. Almagest adalah pengetahuan kuno tentang perhitungan astronomi yang luas, dan telah diterima dan diakui di Abad Pertengahan dan Renaisans. Dia dibantu oleh dua orang dalam melakukan tugasnya, seorang Nasrani dan seorang Yahudi. Dengan ini, dan juga kitab-kitab serupa lainnya, pintu gerbang ilmu pengetahuan bangsa Yunani dan Arab telah terbuka pertama kalinya ke dunia Barat. Dalam bidang pengobatan dia telah menerjemahkan kitab-kitab karya Buqrat dan Galen, hampir seluruh kitab karya Hunain dan Al-Kindi, kitab karya Abul Qasim Zuhrawi tentang ilmu bedah dan banyak kitab ilmu fisika lainnya. Dia juga menerjemahkan ke dalam bahasa Latin karya monumental Ibnu Sina tentang hukum dan banyak kitab lainnya karya al-Farabi, al-Kindi, Ishaq dan Tsabit, dan lainnya.

Cerita di atas adalah cerita yang terjadi di Eropa dalam masa transisi sebelum masa keemasannya. Sekarang kita menuju ke ujung timur Asia:
Pada tahun 1694, kekaisaran Jepang mendirikan institut penerjemahan. Tradisi penerjemahan di Jepang sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Sejak abad 19, usaha-usaha menerjemahkan buku dari bahasa Cina, Belanda, Prancis, Spanyol, Inggris, dilakukan dengan serius. Usaha tersebut masih berlanjut hingga saat ini. Bidang penerjemahan di Jepang lebih maju daripada negara-negara lain. Mekanisme penerjemahan di Jepang sangat baik sehingga buku yang baru di terbitkan di Barat sudah ada di pasaran mereka dalam beberapa hari saja.

Kedua cerita di atas merupakan cerita tentang dua masyarakat yang membuka dirinya dengan dunia luar, dan menyerap ilmu pengetahuan dari luar. Bangsa itu, Eropa dan Jepang, kini merupakan golongan bangsa paling maju di dunia.

Peniruan
Tak ada yang salah dengan tindakan meniru. Manusia belajar melalui meniru, anda pasti tahu ada iklan suatu produk pasta gigi, dimana seorang anak digambarkan mengikuti segala tindak-tanduk bapaknya. Iklan itu benar, manusia berkembang awalnya melalui peniruan dan kemudian diikuti dengan dialektik pemikiran kreatif. Memang, nalar psikologis-moralitas akan menuding bahwa tindakan peniruan itu menjengkelkan. Peniruan selama ini dianggap amoral karena terlihat kekanak-kanakan dan dianggap tidak mau tumbuh. Anti perkembangan.
Akan tetapi, Jepang pernah disebut sebagai peniru yang pintar (sebuah satire menurut saya), peniruan diikuti dengan proses kreatif dan inovasi baru untuk menciptakan teknologi yang baru pula. Jepang sejak dulu sudah menggalakkan penerapan teknologi melalui pemindahan dan penyesuaian. Mereka mempelajari setiap komponen teknologi yang dibawa masuk, sebelum menjalankan penelitian dan memperbaikinya.

Jadilah Penerjemah dan Peniru yang Kreatif
Dari dua sub artikel di atas, dapat dikatakan bahwa tindakan peniruan dan penerjemahan bukanlah sebuah aib. Terkadang ada pandangan miris kita melihat banyaknya karya terjemahan di tanah air, melambangkan miskinnya orisinalitas dalam karya anak negeri. Tetapi ini memang hukum alam, air selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ilmu pun begitu, ia mengalir dari negara maju ke negara berkembang. Untuk akhirnya mata air kreatif dalam negeri akan muncul dan mampu mencukupi kehausan akan ilmu di dalam negeri.

Karya terjemahan adalah satu hal, menerjemahkan dan kemudian mengembangkan serta mengkulturisasi sesuai dengan karakteristik budaya bangsa adalah hal yang lain. Bangsa Jepang banyak menyerap ilmu dari luar tapi tidak meninggalkan ke“Jepangannya”. Mereka bahkan lebih suka menggunakan bahasa Jepang daripada bahasa global, bahasa Inggris.
Meniru dari bangsa lain adalah satu hal, meniru dan memodifikasi adalah hal yang lain. Hamka sudah jauh-jauh tahun mengatakan (bukan jauh-jauh hari lagi, karena dia sudah berkata seperti ini ketika kita belum lahir) dalam Falsafah Hidup, “Maka tidaklah adil jika buah tangan orang lain, syair bikinan orang lain, atau karangan orang lain, kita salin saja lalu kita katakan kita yang empunya. Undang-undang negeri memberi perlindungan kepada hak yang demikian, sehingga orang yang merasa kecurian boleh mengadukannya ke muka hakim. Yang diizinkan hanyalah menyadur. Sebab tidak ada suatu ilmu yang jadi pendapat tunggal seseorang.”
Saya kira yang dimaksud Hamka dengan buah tangan, secara luas, adalah suatu karya cipta dan yang dimaksud saduran tersebut adalah pengembangan kreativnya. Bangsa Jepang juga meniru dari Barat sebelum mereka dapat menghasilkan produk dan barang yang jauh lebih baik daripada yang ditirunya.

Jadi selamat menerjemah (transfer ilmu), meniru, dan dilanjutkan tindakan modivikasi kreatif… kalau hanya sebatas menerjemah atau meniru saja, kita akan di cap sebagai manusia Copy Paste.


Sumber kepustakaan:
Rahasia bisnis orang Jepang, Ann Wan Seng, 2007, penerbit Hikmah.
Falsafah hidup, HAMKA, - , penerbit Umminda.
Psikologi kesuksesan, Maulana Wahiduddin Khan, 2003, Robbani Press.