Amaq Sanah tersenyum dan menangis
Menatap warna dunia
Matahari pipih benderang bergulir
Di dada berhias gambang
Amaq Sanah melangkah dan berhenti
Mendengar bincang dunia
Angin mana telah meniupkan kerinduan
Merapat di muara sukma kita
Amaq Sanah senyum tangisnya tua dan lelah
Tak bertanya siapa aku darimana aku
Karena waktu membuatnya bagian dari aku
Ketika saat berpisah
Amaq Sanah mencoba membuang gelisah
Takut matahari akan melelehkan nanah
Puisi Oleh: Diah Hadaning