(1) Malam Mabuk
Malam merekatkan dingin pada tembok batu.
Berdua kita depan tungku
Perapian, masing-masing dengan segelas red wine di tangan.
Ini minuman terakhir kita, botol-botolnya telah bergelimpangan
Di karpet lantai: “Aku menjadi bidadari,
dikeliling bintang-bintang,” serumu sambil menari-nari.
Di pojok, gramaphone mengalunkan Für Elise dari Beethoven,
musik sedih sebenarnya. Tapi, kita dengarkan
Dengan rasa bahagia: “ Karena di hati kita
penuh cinta!” Suaramu bagai bisikan.
Kuiyakan sambil makin kueratkan pelukan.
2013
(2)Pada
Pada batu aku belajar diam
pada sunyi aku kehilangan arti
pada kelahiran aku belajar kehadiran
pada kematian aku belajar kehilangan
Pada-Mu aku banyak belajar,
tapi sampai kapanpun tak bisa akan sejajar
2003
(3)Fatamorgana
Sejauh arah pandang hanya fatamorgana,
Bias laut. Kuda-kuda berlari tembus kabut,
entah selatan entah utara;
saat gerimis menyingkir, tak lama sesudahnya,
Katamu : “Mungkin bidadari tengah bermandi cahaya,
Sambil mengibaskan selendangnya.”
Ah, kau mulai berhalusinasi,
Apa siang terik masih punya mimpi?
2013
Puisi Karya: Ersa Sasmita
Kategori Puisi: Puisi Kehidupan