Coba kau tanya mengapa aku terdiam
Di bumi baru penuh jebakkan
Disini beda kawan
bumi itu memukul dan mengertak teguh diri
Serta membacakan se bait hukuman
Di diri yang memang gamang
Coba bisik pada lubuk-lubuk kelam hati
Masihkah aku kuat berdiri
Pada tanah yang terus mencaci memaki
Dengan raut garang ingin menyerang
Garis tanah menulis nasib di perantauan
kapan aku bisa bergegas melayang
Terbang jauh ke negeri seberang
Dengan izin sayap-sayap lembut menuntun
Di raga yang gundah gulana ini
Terkadang memang ada lantunan syair dari angin
Pada pusara hati yang bergejolak
Dia coba menerobos benteng-benteng
Sayang, juga jatuh di lubang tak berujung itu
Hidup di tanah yang gersang ini memang pahit, kawan
Badai pasir guntur petir sering datang tak diundang
Luluh terus teguh tanpa berganti semangat
Jemari ingin menggapai gemerlap tingginya kejora
Tapi sejauh jalan yang terpijak
Hanya ku ceritakan pada langit yang diam
Sungguh, dalam dasar hati
Telapak kaki mendambakan berkah setiap langkah
Dalam balutan fajar dan senja
Yang menyuguhkan ceria warna kuning keemasan
Hingga pada langit ku tulis setiap syair.
Darussalam, 1 Juli 2013
Puisi Karya: Khairil Kasim
Kategori Puisi: Puisi Harapan, Puisi Perjuangan