Kurasa kipas alam menyentuh saat ku berdiri dekat bantaran
Gumpalan warna kapas mendekor lengkung kosmis
Melodi aliran sungai ambangkan sehelai daun terbawa arus
Kepak-an sayap capung yang transparan berhenti disebuah ranting
Kupu-kupu berkelir gula, manis menari-nari sendiri
Kurasa ventilasi alam mengelusku saat ku duduk diatas batu
Bengawan lestari yang hanyutkan iritasi pikiranku kini
Jauh dari dengung kota yang hawanya kadang seperti halia
Lentik bulu mataku basah oleh gerimis yang turun perlahan
Air mata pilu oleh derita kerena penyakit yang menderaku
Begitu takut akan maut setelah diberitahu pemegang stetoskop
Begitu rapuhnya jasmani ini sejak dalam buaian bunda
Obat & obat, berbagai bentuk lain penunjang hidupku
Tidak murah tuk menyambung nyawa karna kankerku langka
Kulipat-lipat sehelai kertas menjadi sebentuk perahu
Tertulis ketaatan & kesabaranku jalani titah sang Pencipta
Kuiringi dayungnya hingga ia menghilang dari pandangan
Seiring pelangi yang mendadak hadir dimataku
Ada para-paras yang kukenal terseyum padaku
menyuruhku membagi beban di komunitas sepertiku
mengingatkanku pada yang datang & pulang, semua kehendak Nya
menginginkanku tetap ada kunjungi bengawan lain
memintaku menunggu kelir lain kupu-kupu dan capung
mengharapku hempaskan putus asa & kecewa hanyut disungai
Sesaat sebelum halimun berkuasa dekat bantaran
Orang-orang yang menyayangiku mengajak tuk bergegas
Kembali pada waktu yang membuatku hangat dan tak sendiri
Puisi Karya: Risma Adhani
Kategori Puisi: Puisi Harapan