Sebutir kelapa berkulit sawo jatuh menggelinding diatas pasir hitam
bertemu anak ketam yang dibawa dendang air asin kepesisir
Bara melingkar tipis kepulkan asapnya dari sebatang sigaret
diapit jari kanan kumbang yang sedang digantungi mendung
paru-paru yang menghisap nikotinnya terus melawan bimbang yang datang
Menatap hampa lautan yang coba melipur laranya dengan ombak
tapi semua yang ada disekitar matanya hanya bak diorama saja
tak tahu harus diadu pada siapa gundah yang memecah sukmanya
Sebutir kelapa layu dilumpuh angin tak bisa melawan gravitasi
jatuh diatas pasir beberapa jengkal dari anak kerang yang dihempas laut
Duduk seseorang diatas karang tak lagi merasai kreteknya
Kedua lengannya bertumpu diatas lutut mengarah ke samudera
matanya terus menahan buih dilema yang merongga dada
Memburu sejauh mungkin tuk dapatkan arti sejati kesetiaan
ketika segenap raga bersiaga arungi satu ikatan asmara
tangan Tuhan mengujinya, menggunting benang penyatu dua jiwa
Sebutir kelapa kering bergeming melayu bulatnya diatas pasir
dipinggir laut karang-karang mematung tersembur deru ombak
mengkawal langkah gontai seseorang, menunduk kelopak matanya
Ia yang pernah berkawan bahagia dengan mawar pilihannya
Ia yang pernah menanam beratus cahaya fajar bersamanya
harus membiarkannya pergi dari hati yang amat mencintainya
Sepertinya air mata dukanya terbang kelaut luas
Sepertinya sesak yang dirasa dibawa desir gelombang
Sebutir kelapa berkulit hijau muda masih dipangku induknya
ia akan bernyanyi dalam nafas waktu hingga kulitnya berganti rona
Semilir angin akan tetap berdenyut-denyut diantaranya
Puisi Karya: Risma Adhani
Kategori Puisi: Puisi Sedih