20/06/2008

Komaruddin Hidayat : Psikologi Kematian, mengubah ketakutan menjadi optimisme

Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esenseinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup ~ Komaruddin Hidayat

Satu lagi buku yang membahas tentang kematian. Kematian memang menjadi bahan pembicaraan penting dalam wacana filsafat, setua dengan wacana tentang “masalah” ketuhanan. Kadang membicarakan tentang kematian memang menakutkan, tetapi tetap saja misteri tentang kematian mau tak mau menarik minat manusia untuk ditembus. Memang menakutkan bagi sebagian orang, dan menarik untuk sebagian yang lain.
Komaruddin Hidayat sendiri juga menulis dalam pengantarnya, membahas soal kematian bisa menimbulkan pemberontakan yang menyimpan kepedihan dalam setiap jiwa manusia (pengantar wacana, halaman xvi).

Selain itu, bipolar dualisme pandangan antara sekulerisme dan spiritualisme memandang kematian kental mewarnai buku ini. Di sepanjang buku, pembaca akan menemukan penjelasan ditinjau dari dua paradigma dalam memandang kehidupan, dan kematian itu. Meskipun terkadang dengan nama yang berbeda-beda tetapi intinya tetap sama, ekstrem satu menolak metafisika dan yang lainnya mengamininya.

Dan juga, selayaknya cendikiawan muslim, ia tidak menutup diri dari filsafat barat. Ada banyak kutipan yang diambilnya dari khazanah keilmuan “barat”. Contohnya saja cara pandang moralis Kantianisme ikut menjadi bahan perhatian dan ulasan. Komaruddin Hidayat memang tidak serta merta menolaknya, tapi juga tidak serta merta menerimanya, hanya mengambilnya sebagai salah satu dasar pemikiran moralistik tentang hidup dan mati. Dia bahkan mengutip pandangan itu sampai dua kali, pada bagian “hidup sebagai tindakan bermakna” dan pada “keabadian jiwa”.

Sebagai pengantar buku ini, M Quraish Shihab diberi kepercayaan. Memang beliau kompeten dalam berbicara tentang kematian, beliau juga penulis buku “Perjalanan Menuju Keabadian”. Keluasan pemikirannya dengan Mas Komar tampak sebanding, Quraish Shihab gemar juga dalam memasukkan/membandingkan/mengkoreksi unsur-unsur filsafat kontemporer (filsafat barat) ke dalam tulisan-tulisannya, kalau pandangan Mas Komar ada unsur kantianismenya, maka beliau mengutip nietzche, Sarte dan Scopenhour. Bukti bahwa beliau tidak menutup diri dari pandangan luar.

¼ tentang kematian, ¾ tentang kehidupan. Begitulah, psikologi kematian tentu dapat juga dibaca sebagai psikologi kehidupan. Sesuai juga dengan pandangan Gede Prama, yang juga memberikan komentar di bagian depan buku ini, “Kematian bukannya lawan kehidupan. Ia adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, manusia bisa hidup dengan indah sekaligus mati dengan indah.”.

Memang benar, psikologi kematian begitu dekat dengan psikologi kehidupan, dalam buku ini sendiri 3 bab pokok malah lebih banyak mengupas kehidupan, tentu saja ditinjau dari sudut pandang bahwa manusia tidak abadi, bab-bab itu adalah; “Makna Kelahiran Manusia”, “Spiritualitas dan Kegelisahan Manusia”, “Pencarian Makna Sebelum Kematian Datang”. Sedangkan bagian keempat mengupas lebih ke masalah pokok, “Dari Kematian Menuju Kehidupan Abadi”. Dan terakhir adalah epilog, “Selamat Datang Kematian”.

Buku ini ditulis dengan bahasa sehari-hari, sepertinya memang dibuat agar mudah dimengerti oleh pembaca. Tampak begitu naratif, gaya penulisan bertutur dan santai, banyak kisah hidup dan kejadian-kejadian di sekitar kehidupan pengarang yang menjadi bagian materi buku ini, selain berbagai rujukan buku, yang mencapai 27 sumber pustaka.
Secara keseluruhan tampak pandangan-pandangan penulis tentang hidup dan juga kematian sudah terasa matang. Beliau mengajak memandang kematian dengan ketenangan, tentu saja setelah menunaikan kewajiban dalam hidup sebaik-baiknya.

Pengarang, Komaruddin Hidayat adalah pejabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah sejak 2007 hingga sekarang. Ia dilahirkan di Pabelan Magelang, 18 Oktober 1953, Beliau memulai pendidikan agamanya di pondok pesantren Pabelan, lalu melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah mendalami ilmu perbandingan agama di IAIN, beliau melanjutkan studinya ke Middle East University, Ankara, Turki, departermen filsafat. Prestasi dan jabatannya antara lain adalah Guru Besar Filsafat Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Direktur Program Pasca Sarjana UIN (1996-2000) dan dosen Pascasarjana UGM (2003).

Judul : Psikologi Kematian, mengubah ketakutan menjadi optimisme
Pengarang : Komaruddin Hidayat
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : VII, November 2006
Buku : 20,5 cm, 171 hal.