02/01/2010

ORANG YANG BERPALING KETIKA BERJALAN KE NERAKA

Malaikat pelindung, yang biasanya berjalan tak kelihatan di muka dan di belakangnya, kini kelihatan seperti polisi.
Mereka menyeret, memukulnya dengan tongkat sambi membentak, ”Pergi kau, O anjing, ke kandangmu!”
Dia berpaling ke Hadirat Yang Maha Suci: air matanya bercucuran bagai hujan musim gugur. Selain harapan-apa lagi yang dia miliki?
Maka dari Tuhan di kerajaan Cahaya datanglah titah-"Katakan kepadanya: ’iniah imbalan bagi orang yang tak pernah berbuat kebajikan,
Kau telah melihat catatan hitam dosa-dosamu. Apa lagi yang kauinginkan? Mengapa kau tetap tinggal di situ dalam kesia-siaan?”
Dia menjawab, ” Tuhan, Engkau lebih mengetahui, aku ratusan kali lebih buruk daripada yang telah Engkau nyatakan;
Namun di balik upaya dan tindakanku, di balik kebaikan dan kejahatanku, serta di balik iman dan kufurku,
Bahkan di balik hidupku yang lurus maupun menyimpang-sungguh kumohon akan Kasih-Sayang-Mu.
Kembali kupalingkan diriku pada Karunia suci, tak kuperhatikan seluruh amal diriku.
Engkau memberiku wujud sebagai jubah kehormatanku: aku selalu menyandarkan diri pada kasih-sayang itu.”
Ketika dia mengakui semua dosanya, Tuhn berfirman kepada Malaikat, ”Bawa dia kembali, karena dia tidak pernah kehilangan harapan pada-Ku.
Sebagai seorang yang mempedulikan kesia-siaan, Aku akan membebaskannya dan menghapuskan seluruh pelanggarannya.
Aku akan menyalakan api Rahmat yang setidak-tidaknya perciknya saja dapat menghabiskan seluruh dosa dan beban serta kemauan bebasnya.
Aku akan meletakkan api di rumah Manusia dan membuat duri-durinya bagai kuntum bunga-bunga mawar.”


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. V, 1815