28/01/2010

RUH SEMESTA TERSINGKAP PADA PARA NABI DAN WALI

Setiap saat perampok Keindahan muncul dalam bentuk yang berbeda, memperkosa jiwa dan menghilang.
Setiap saat Tuhan Yang Tercinta memakai busana baru, terkadang tampak tua, terkadang tampak muda.
Kini Dia menyelam ke dalam hati jasad yang terbuat dari tanah liat - Ruh menyelam bagai penyelam.
Segera, muncul dari adonan tanah liat yang telah usai dibentuk dan dipanggang, Dia tampak di dunia.
Dia menjadi Nabi Nuh, dan masuk ke Bahtera ketika karena doa-Nya dunia banjir.
Dia menjadi Ibrahim dan tampak di tengah-tengah kobaran api, yang demi diri-Nya berbunga mawar.
Sesaat Dia mengembara mengelilingi dunia untuk menyenangkan diri-Nya;
Kemudian dia muncul sebagai ‘Isa dan naik ke Surga dan mengagungkan Tuhan.
Ringkasnya, adalah Dia yang datang dan pergi di setiap generasi yang engkau ketahui,
Hingga akhirnya Dia tampak dalam bentuk seorang Arab dan memperoleh kerajaan dunia.
Tidak ada perpindahan, tiada yang dipindahkan. Pemenang hati-hati yang tercinta itu.
Menjadi sembilan pedang di tangan ‘Ali dan tampil sebagai Pembunuh sang waktu.
Bukan, bukan! Dia jualah yang berseru dalam tubuh manusia, “Ana al-Haqq.”
Orang yang memanjat tiang gantungan itu bukanlah Manshur, seperti yang dibayangkan orang bodoh.
Rumi tidak pernah dan tidak akan mengucapkan kata-kata pengingkaran: jangan sangsikan dia!


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Diwan, Tab. 199