01/02/2010

DOKTRIN TENTANG DIAM

Jika berita datang dari wajah Syamsuddin, matahari di Langit Keempat menyembunyikan diri karena malu.
Sejak namanya hadir ke dalam hidupku, harus aku sampaikan isyarat karunianya itu.
Jiwaku merenggut jubahku: ia menangkap parfum gamisnya Yusuf.
Ia berkata: ”Demi persahabatan kita yang telah bertahun-tahun, ceritakanlah salah satu dari kegembiraan yang luar biasa,
Agar bumi dan langit dapat tertawa dengan gembira, supaya akal dan ruh serta penglihatan dapat meningkat seratus kali.”
Aku berkata: ”Janganlah meletakkan tugas kepadaku, karena aku telah hilang dari diriku (fana); kepandaianku tumpul, aku tak tahu bagaimana memuji.
Adalah tak pantas, apabila seseorang yang belum kembali ke kesadaran memaksakan diri untuk berperan sebagai pembual.
Bagaimana aku dapat – tanpa sadar – melukiskan Sang Teman yang tanpa tolak bandingnya itu?
Penggambaran tentang luka hati yang sepi ini sebaiknya kutunda hingga lain waktu,”
Ia menyahut: ”Berilah aku makanan, karena aku lapar, dan cepatlah, karena waktu (waqt) adalah sebilah pedang yang tajam.
Sufi adalah anak sang ’waktu’ (ibnul-waqt), Wahai teman: bukan cara kebiasaannya untuk berkata besok.
Maka, apakah engkau bukan seorang Sufi? Apa yang ada di tangan jadi habis berkurang karena tertundanya pembayaran?
Aku berkata kepadanya: ”Lebih baik rahasia Teman tetap tersamar: dengarkanlah karena ia termasuk dalam isi cerita.
Lebih baik rahasia para pencinta diceritakan (secara alegoris) dalam pembicaraan orang lain.”
Ia berseru: ”Ceritakanlah dengan jelas dan terus terang tanpa kebohongan: jangan membuatku menunggu, O orang yang lalai!
Angkatlah selubung dan bicaralah terus terang. Aku tak berpakaian ketika tidur bersama Yang Maha Terpuji.”
Aku berkata: ”Apabila Dia harus telanjang dalam pandanganmu, takkan tahan dada dan pinggangmu.
Mintalah, tapi mintalah secara wajar: sehelai jerami takkan dapat menyangga sebuah gunung.
Jika Matahari, yang menyebabkan dunia ini bersinar, lebih dekat sedikit saja, semua yang ada akan terbakar.
Janganlah mencari kesulitan dan kerusuhan serta pertumpahan darah: janganlah bicara lagi tentang Matahari dari Tabriz!”


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. I, 123