01/02/2010

JIWA DUNIA

Aku telah berkeliling sebentar bersama sembilan Ayah di setiap Langit.
Aku telah beredar bertahun-tahun dnegan bintang-bintang dalam tanda-tanda mereka.
Aku tak terlihat sebentar, aku telah tinggal bersama-Nya. Aku telah berada di dalam Kerajaan dari ”atau lebih dekat lagi,” aku melihat apa yang pernah kulihat.
Aku menerima makanan dari Tuhan, seperti seorang bayi di dalam kandungan:
Aku telah lahir berulang-kali, manusia lahir hanya sekali.
Berbusana dalam sebuah mantel jasmani, aku menyibukkan diri dengan urusan-urusan duniawi,
Dan sering sudah kurobek mantel dengan tanganku sendiri. Kulewatkan malam bersama para asketis di dalam biara, Aku telah tidur bersama orang-orang kafir di depan berhala-berhala dalam biara,
Akulah kepedihan dari si pencemburu, akulah nyeri dari si sakit. Akulah awan dan hujan: aku telah terkena hujan di tengah padang rumput.
O darwis! Pada garmisku tak pernah menempel debu kematian, Telah kuhimpun kekayaan mawar di taman keabadian. Aku bukanlah dari air maupun api, aku bukanlah dari angin liar.
Aku bukanlah dari lempung yang dibentuk: kutertawakan mereka semua.
O anak, aku bukan Syams-i Tabriz, aku adalah Cahaya murni. Jika engkau melihatku, hati-hatilah! Jangan ceritakan kepada siapapun apa yang telah engkau lihat!


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Diwan, SP, 331