30/01/2010

ANGGUR CINTA

Dia datang, bak Rembulan yang tak pernah terlihat di langit, baik dalam jaga maupun dalam mimpi,
Bermahkota api abadi yang tak pernah mati.
Lihatlah, Wahai Paduka, dari cawan anggur cinta-Mu, jiwaku berenang
Meninggalkan kerangka raga lempungku.
Kala pertama Pemberi buah anggur tiba, hatiku nan tengah kesepian menjadi mendapat mitra,
Anggur membakar dadaku dan seluruh pembuluhku kian sarat dengan darah;
Namun ketika citra-Nya memikat seluruh pandanganku, suara pun merendah:
”Sungguh indah, O Anggur nan perkasa dan Piala nan tiada tara!”
Tangan kuat cinta merenggut dari atas hingga ke dasar tempat yang diselubungi kegelapan
Yang celah-celahnya enggan meraih sinar keemasan.
Hatiku, jika lautan Cinta tiba-tiba memasuki pandangannya,
Melompatlah segera ke dalam, serta ”Temukan aku sekarang juga!”
Sebab, bila matahari bergerak, awan pun mengikutinya dari belakang,
Semua hati menyertaimu, O Matahari Tabriz!


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Diwan, S P, VII