30/01/2010

TAKDIR DAN KEBEBASAN KEHENDAK

Seorang Muslim menyeru seorang Magi untuk beriman kepada nabi. Dia menjawab, ”Saya akan beriman, apabila Tuhan menghendaki.”
”Tuhan menghendakinya,” sahut seorang Muslim, ”namun hawa nafsumu dan Setan yang jahat selalu menyeretmu pada kekafiran dan hawa-nafsu.”
”Baiklah,” dia menjawab, ”apabila mereka itu lebih kuat, haruskah saya tidak mengikuti mereka yang secara langsung menyeretku?
Engkau katakan bahwa Tuhan menghendakiku untuk menganut Islam: apa gunanya Kehendak Tuhan bila Dia tidak mengabulkan?
Menurutmu, Hawa-nafsu dan Setan telah berhasil melaksanakan keinginan mereka, sedangkan Tujuan Tuhan Yang Maha Esa Agung telah gagal dan berantakan.
Subhanallah! Apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi. Dialah pengatur alam semesta.
Tanpa Perintah-Nya tiada sesuatu apapun di dalam Kerajaan-Nya yang akan bertambah banyak walau seujung rambut pun.
Kerajaan adalah milik-Nya, Perintah adalah milik-Nya: bahwa Setan-setan-Nya adalah anjing-anjing yang paling hina di depan pintu-Nya.”
”Sudah tentu”, sahut orang Muslim, ”kita mempunyai kekuatan tertentu untuk memilih: engkau tak bisa mengingkari adanya bukti-bukti yang jelas tentang perasaan batin itu.
Ada suatu kekuatan untuk memilih dalam hal ketidakadilan dan perbuatan yang salah: itulah yang kumaksudkan ketika saya berbicara tentang Nafsu dan Setan.
Naluri untuk memilih itu tersembunyi dalam jiwa dan muncul ketika obyek yang diinginkan tampil dalam perbuatan.
Ketika Iblis menunjukkan suatu sasaran keinginan, maka kekuatan yang terlelap itu bangkit dan bergerak kepadannya,
Sementara itu, di pihak lain, Malaikat meletakkan di hadapanmu obyek-obyek keinginan yang baik serta menanamkannya ke dalam hatimu,
Supaya kekuatan untuk menentang kejahatan dan memilih kebaikan dapat dirangsang.”
Menurut pertimbangan akal yang sehat, ajaran paksaan (jabr) itu lebih buruk daripada ajaran kebebasan-kehendak (qadar), karena seorang Jabbariyah itu mengingkari kesadarannya sendiri.
Sedangkan ajaran kebebasan kehendak tidak mengingkari hal itu, ia mengingkari perbuatan Yang Maha Kuasa: ia berkata, ”Ada asap, namun tiada api.”
Seorang Jabbariyah jelas melihat api: membakar pakaiannya, dan seperti orang yang skeptis dia menganggap api itu tidak ada.
”Apabila hanya Tuhan semata yang memiliki kekuatan untuk memilih, mengapa engkau marah kepada pencuri yang mencuri milikmu?
Bahkan binatang pun mengenal perasaan batin ini: unta yang dipukul keras, akan menyerang pengendaranya; kemarahannya tidaklah ditujukan kepada pecutnya.
Seluruh kandungan Al-Qur’an berisi perintah dan larangan serta ancaman hukuman, apakah ini semua ditujukan kepada bebatuan dan kerikil-kerikil?
Engkau telah melepaskan kemungkinan ketidakmampuan Tuhan, namun engkau menyebut-Nya benar-benar tidak tahu dan dungu.
Ajaran Kebebasan-kehendak tidaklah berarti ketidakmampuan Tuhan; dan jika memang demikian, kebodohan itu lebih buruk daripada ketidakmampuan.
Kekuatan memilih Tuhan yang Universallah yang telah menimbulkan kekuatan diri kita mewujud: Kekuatan-Nya laksana penunggang kuda yang tersembunyi oleh debu yang diterbangkannya;
Namun pengawasannya terhadap perbuatan dari kebebasan-kehendak tidaklah menghilangkan kualitas bebasnya.
Nyatalah bahwa Kehendak Tuhan itu dilaksanakan dalam suatu cara sempurna, sekalipun tanpa dihubungkan dengan paksaan (jabr) dan tanggung-jawab karena pengabaian perintah-perintah-Nya.
Engkau katakan bahwa kekafiranmu itu dikehendaki oleh-Nya; namun ketahuilah bahwa hal itu juga dikehendaki oleh dirimu sendiri.
Berusaha keraslah untuk memperoleh ilham dari cawan cinta Tuhan: sehingga engkau tak mementingkan diri sendiri dan tanpa kehendak.
Sehingga seluruh kehendak akan menjadi milik Anggur itu, dan engkau akan menjadi pemaaf yang sesungguhnya.


Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. V, 2912