02/02/2008

HAMKA : Falsafah Hidup

Awalanya saya mencoba mereview, buku Falsafah hidup HAMKA. Akhirnya karena kesulitan dalam mereview, dalam perkembangannya jadilah ia semacam suatu ringkasan. Karena terlalu panjang, dan dengan pertimbangan sayang kalau sekedar terlantar memenuhi hardisk komputer saya, akhirnya saya posting dengan dipecah menjadi tiga bagian:

Hamka: Falsafah Hidup
Ringkasan buku “Falsafah Hidup” Hamka (2)
Ringkasan buku “Falsafah Hidup” Hamka (3)


Sebelum ini saya menulis tentang buku Tan Malaka, Madilog. Sekarang saya tulis juga bukunya Hamka, yaitu Falsafah Hidup. Kedua tokoh ini pada pokok tulisannya sama, bicara mengenai filsafat. Kedua penulis dan tokoh ini memiliki kesamaan dalam menghargai tinggi akal dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi yang membedakannya adalah Tan Malaka dapat dikatakan sebagai “orang kiri”, dan Hamka memiliki dasar Islam.
Di bawah ini saya mencoba untuk menyarikan (lebih tepatnya meringkas) apa-apa yang sekiranya dirasa cukup penting dalam “filosofi hidup”-nya Hamka ini, dan semoga dapat menjadi sekedar rujukan, bila anda ingin mengetahui lebih jauh, silahkan dicari ke sumber aslinya. Sebenarnya cukup sulit untuk menyarikan tulisan Hamka ini, karena padatnya isi yang dikandung, hampir-hampir kalau perlu digaris bawahi maka sebagian besar itu dirasa perlu. Akan tetapi tetap saya coba mencari bagian yang kira-kira paling penting.
Awalnya memang saya hanya hendak sekedar mereview buku ini, tapi karena sekali lagi, cukup sulit dilakukan mengingat isi buku ini berupa bahasan mengenai pokok kehidupan yang mendasar, akhirnya tulisan ini malah semakin melebar, dan berkembang menjadi sebuah ringkasan dan tak dapat dihindari, tulisannya menjadi panjang.

Sesuai dengan judul, maka bagian awal yang dibahas Hamka ialah hidup itu sendiri.

Hidup
Setelah panjang lebar mengurai kehidupan, ilmu otak, syaraf, akal, kehidupan, pergantian teori-teori kehidupan akhirnya pada ujungnya Hamka menulis:

Siapakah Dia? Kita tidak tahu dan tidak dapat mengetahui apa zatNya, cuma kita dapat mengetahui bahwa Dia ada, ialah dari melihat dan mengetahui bekas perbuatanNya. Kita tidak tahu, kita tidak mendapat. Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita….
Untuk mendatangkan ketentraman diri, cobalah perhatikan jenis benda yang maujud, perhatikan zat dan sifatnya, baik yang dapat disaksikan dengan pancaindera atau yang dapat diperiksa dengan akal. Perubahan-perubahan yang terjadi pada alam menunjukkan bahwa dia ada mempunyai satu aturan, suatu ketentuan yang dilalui. Adanya ketentuan-ketentuan yang dilalui menunjukkan bahwa alam itu terpengaruh oleh sesuatu kekuatan yang kuasanya melebihi dari kuasa alam. Yang menguasai itu tentu mempunyai segala sifat kelebihan. Kita tahu bahwa Dia ada, tetapi kita tidak tahu bagaimana DzatNya. Sedangkan Zat alam sendiri, yang dijadikanNya, yaitu anasir asli daripada alam, lagi tidak diketahui, kononlah Zat Yang Menjadikan itu. Disanalah rahasia perkataan Abu Bakar Shiddiq : “Lantaran kelemahan kita memperdapat siapa Tuhan itu, waktu itulah kita telah mendapat.”

Maka dapatlah satu kesatuan pokok dari segala undang-undang, yaitu suatu perubahan yang tidak berubah-ubah. Maka timbullah keinsafan manusia atas kecil dirinya di hadapan kekuasaan besar itu., yang ada dalam segenap sang wujud, yang pada lahirnya tampak bercerai tetapi dalam rahasia tetap bersatu. Diatur oleh SATU tampuk kekuasaan. Lalu bekerja keraslah mereka menyelidiki dimanakah dan apakah namanya kesatuan segala rahasia itu. Kadang-kadang terdapatlah namanya menurut ukuran pendapat pada masa itu, seumpama nus, logos, ether, atom dan lain-lain; dan itupun belum puas. Dalam kekerasan hati manusia mencari, sudah terang dan jelas bahwa manusia adalah makhluk istimewa, di dalam alam, yang kepadanya akan diwariskan bumi dan isinya ini, karena akalnya, maka ZAT yang jadi pokok kesatuan tadilah yang mulai memberi tahukan siapa dirinya, dengan perantara makhlukNya sendiri yang dipilihNya, dengan perantara manusia besar yang menunjukkan jalan bukan dengan maunya, bukan pula dengan kecerdasan luar biasa dengan pendapat otaknya, tetapi dengan wahyu, itulah Nabi.

Akal
Seorang Hukama berkata: “Penderitaan menyebabkan putih rambut yang hitam, pengalaman membasuh jantungnya, kejadian selalu hari yang dilihat didengarnya memupuk jiwanya, karena percobaannya, kenallah dia akan awal dan akhir, pangkal dan akibat. Orang yang beginilah yang patut disebut berakal. Adalah dia di dalam kaumnya, mengarah-arahi nabi di dalam umatnya, menjadi pilihan Tuhan buat mengirit merentangkan, berjalan di barisan muka. Maka mengalirlah dari sumber ketangkasannya dan dari kecerdikan akal serta lautan ilmunya, segala perkara yang dapat ditiru diteladan, dijadikan pedoman tujuan hidup”.

Maka orang yang berakal demikian adalah orang yang mendapat inayat dari Allah. Barang siapa yang mendapat inayat demikian, lebih kaya ia dari milioner. Sebab dari batinnya memancar cahaya hidayah rahbaniahnya. Hatinya penuh dengan kebijaksanaan, sangkanya baik, pengharapan benar. Orang lain melihat suatu dari kulitnya, sedang ia sampai ke dalam isinya. Sukar tergelincir dengan sengaja.

Akal dapat diperhalus melaui kias (membandingkan sebab kepada pangkal sebab), menyelidiki bagian untuk menghukum semuanya dan menetapkan hukum pada sebagian karena terdapat di bagian lain. Disebutkan juga tanda-tanda orang berakal adalah selalu menakar dirinya, selalu berbantah dengan dirinya (kontemplasi, pen), mengingat sifat kekurangannya, tidak bersukacita lantaran cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya, enggan menjauhi orang yang berakal, insaf bahwa diantara akal dan nafsu, atau diantara fikiran dan hawa nafsu tidaklah terdapat persetujuan, tidak berduka hati (tidak ada tempat dia takut kecuali Tuhan), tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, pergi ke medan perang dengan senjata (berbekal kekuatan sebelum melakukan perjuangan), membandingkan yang belum ada kepada yang telah ada, yang belum didengar kepada yang telah didengar, orang berakal hidup buat masyarakat bukan untuk diri sendiri.

Sedangkan tujuan akal itu sendiri, tujuan yang paling mulia, tujuan akal sejati, tujuan perjuangan kita di dalam hidup ini adalah ma’rifat Allah, kenal akan Tuhan, mengerjakan perintahNya dengan taat, menahan diri daripada memaksiatNya. Ma’rifat Allah terbagi pada tiga tingkatan, Tingkatan yang paling tinggi adalah yang telah dicapai oleh Nabi-Nabi, orang-orang siddik yang biasa digelari waliullah, dan syuhada yang telah mengorbankan jiwanya didalam mempertahankan agama Allah. Yang kedua adalah pertengahan, ialah yang diperdapat dengan jalan Zhan yang telah ditafsirkan oleh ahli logat dengan yakin, meskipun belum sampai pada derajat yang sejati. Yang ketiga adalah yang rendah, yang imannya kepada Allah hanya lantaran khayal, atau lantaran turut kepada orang banyak, taklid atau keturunan saja.
Akal dan hawa dua kekuatan yang bertempur dalam diri kita. Akal itu lekas insyaf kalau tersesat.

Lawan akal dan lawan ilmu yang diberantas kedua-duanya sehabis-habisnya upaya adalah kejahilan. Kejahilan itu terbagi atas dua bagian besar. Jahil basil atau jahil tipis ialah lantaran kekurangan akal dan kekurangan pengalaman dan yang bersangkutan insaf kejahilannya, jahil yang begini kalau terlanjur mengerjakan kesalahan, lalu diberi ingat mau dia lekas merubah, karena batinnya masih suci. Jahil murakkah itu lebih berbahaya karena jahil tidak tahu bahwa dia jahil atau tidak mau tahu. Dan umumnya jahil murakkab adalah lantaran sombong.

Ada pula kepercayaan yang membagi derajad orang jahil pada empat bagian. Tingkatan pertama, orang yang tidak mempunyai pendirian baik yang benar ataupun yang salah sekalipun, masih kosong. Tingkatan kedua, mempunyai pendirian yang salah, tetapi dia tidak tahu kesalahannya. Tingkatan ketiga, mempunyai pendirian salah, disangkanya benar lalu dipegangnya. Keempat, orang yang mempunyai pendirian salah, tahu akan kesalahan itu, atau bisa mengetahuinya, akan tetapi tidak mau meninggalkannya.

Golongan yang keempat macam itu, sudah ditentukan cara menghadapinya. Ada yang dengan hikmat, memperbanyak misal atau umpama, itulah golongan pertama dan kedua. Ada yang dengan mau’ziah, dengan memberikan pengajaran dan peringatan, itulah golongan yang ketiga. Dan ada yang dengan mujadalah billati hia ahsan, bertukar pikiran dengan jalan yang sebaik-baiknya, itulah golongan yang keempat. Kalau ketiga ikhtiar itu tidak mempan juga, bukanlah lagi perkara kita, serahkan kepada Tuhan, habis perkara! Karena keputusan adalah di tangan Tuhan. Dialah yang memberi hidayah, bukan kita.

Undang-undang alam
Di dalam agama Islam, tegasnya di dalam Al-Quran, berbagai nama undang-undang alam itu. Kadang-kadang ia bernama sunatullah, dan kadang bernama “As Shiratul Mustaqim”. Dan kadang-kadang bernama “Khalqillah”. Untuk menuntut ilmu undang-undang alam, tidak perlu orang mencari alam terlalu banyak. Kehendak yang utama dari undang-undang alam hanya satu perkara saja, yaitu bersihkan hati nurani dari segala kotorannya, tentu terbukalah pengetahuan dan terbukalah hijab (dinding) yang membatas antara hati dengan dia.

Untuk mengetahui dimanakah terentangnya jalan undang-undang alam itu, manusia-manusi besar (manusia yang mencari rahasia alam dan pengetahuan, pen) tadi telah menyelidiki pengaruhnya atas diri kita sendiri. Apakah yang ada pada kita sebagai manusia? Didapatlah pecahan rahasia itu, yaitu perasaan senang dan sakit.

Dimanakah letak kepuasan dan kesakitan yang hakiki? Ternyata bahwa bukan dorongan semata-mata syahwat dan instinct, bahkan lebih tinggi dari itu. Yaitu kepuasan atau kesakitan jiwa. Itulah tujuan hidup yang hakiki, dan dengan itulah kita dapat mengetahui dan melihat undang-undang alam tadi.

Agama bukan filsafat! Tetapi dengan merenung filsafat, orang dapat bertambah iman dalam agama. Dalam agama seorang yang berbuat kebajikan dijanjikan dengan kepuasan abadi, yaitu syurga. Orang yang berbuat kejahatan diancam dengan kesakitan, yaitu neraka. Tandanya senang dan sakit diakui juga sebagai soal kesudahan hidup yang dihadapi manusia.

Adapun tentang hal syurga, setelah diterangkan Allah dengan perantara nabi Muhammad saw bagaimana nikmat yang ada di dalamnya, maka nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan: “Syurga itu adalah barang yang mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar dan lebih tinggi daripada yang terikhtiar dalam hati.”
Untuk mencapai kesenangan di dunia, haruslah mencapai kesenangan jiwa dengan meningkat beberapa anak tangga. Satu diantaranya adalah “budi yang utama”.

Tadi sudah dijelaskan bahwa mencari kepuasan dan takut akan kesakitan (penderitaan) adalah setengah dari perkakas untuk pemeliharaan hidup. Tetapi ada pula kepedihan dan penderitaan yang perlu, dan ada pula penderitaan itu yang berguna untuk menjaga kehidupan. Disanalah berguna ‘iffah dan syaja’ah. ‘iffah artinya kesanggupan menahan diri, syaja’ah ialah untuk membangkitkan keberanian menempuh suatu kesakitan yang perlu buat kemaslahatan kehidupan (misalnya berani operasi demi kesehatan).

Kalau ‘iffah telah kuat, timbullah qana’ah, mencukupkan yang pada diri, bukan tamah. Bila perangai tamak telah hilang, timbullah perangai amanat, bisa dipercaya. Bila adil telah tumbuh, timbul pulalah rasa belas kasihan. Belas kasihan menimbulkan maaf dan maaf menimbulkan ampun. Perangai yang demikian bernama keutamaan. Keutamaan itulah kemanusiaan.

Tiap-tiap keutamaan yang bersifat penyerangan (offensif), sebagai tahan, teguh tangkas, perwira, kesatria, berani menyebrangi bahaya, tidak segan menghadapi maut, maju ke depan bahaya dan kengerian, terus terang dan setia memegang pendirian, semuanya ialah buah daripada syaja’ah.

Adapun kedua perangai utama yang dua tadi, ‘iffah dan syaja’ah ialah mengenai diri sendiri. Yang mengenai dalam. Adapun yang mengenai diri terhadap masyarakat, ialah: Adil dan hikmat. ‘Iffah dan syaja’ah terkumpul dalam I’tidal (sederhana), dan adil serta hikmat terhimpun dalam mahabbah, cinta saesama manusia.

Wajiblah kita berjuang mengendalikan diri, supaya kembali pada jalannya yang asli, kepada “undang-undang alam”. Suruh dia menyelidiki kembali dan memeriksa, menghukum dengan akalnya, membentuk irama iradatnya, berusaha supaya menang kekuatan yang yakin daripada kekuatan yang samar. Supaya dapat cahaya hakikat mengusir mega kejahilan. Biasakan diri di dalam lingkungan utama, jangan banyak was-was, jangan takut dan putus asa, jangan susah dan duka cita, jangan gentar dan mundur.
Undang-undang alam asli dan benar, orang yang melanggarnya terhukum kejam sekali. Kita harus senan tiasa hidup di dalam garisnya.

Bahwa segala sesuatu yang kita perebutkan di dunia ini di dalam umur yang begini pendek, baik harta atau pangkat, atau kehormatan dan pujian, semua hanyalah perkara-perkara tetek bengek, yang tidak memberikan keuntungan apa-apa. Adanya tidak memberi laba, hilangnya tidak akan merugikan. Alangkah kecilnya megah dunia dibandingkan dengan kebesaran nikmat yang abadi, yang diberikan Tuhan dengan suka redhanya di dalam dada kita.